Opini Pariwisata 17 April 2020

Rasanya kurang pas berbicara perihal mendatangkan Wisman asal Tiongkok, Korea, dan Jepang pada tahap tanggap darurat ini, fokus saat ini adalah KEMANUSIAAN. Karena industri pariwisata sudah kehabisan nafas, sehingga mereka perlu diberi oksigen.

Selanjutnya, secara realita tidak mungkin pada tahap ini kita “menggerakkan” pasar dengan strategi apapun karena pasar sedang mengalami “mortality phobia” sebagai akibat pandemi covid-19. Bahkan pada waktu krisis tahun 2003, berkembang istilah “if you fly you die” karena ada wabah Avian Flu dan SARS. Akibatnya, kecenderungan orang untuk melakukan perjalanan atau “propensity to travel” menjadi NOL.

Pada tahap tanggap darurat salah satu sub-mix promotion yang bisa diterapkan adalah berbagai kegiatan Public Relations.

Contoh kegiatan pemasaran yang berdampak kemanusiaan pada situasi pandemic covid-19 yang dilakukan misalnya oleh McDonalds yang merubah logonya untuk mencerminkan physical distancing, demikian pula KFC dengan memakaikan masker pada logo mereka untuk mengatakan bahwa pada masa pandemi coronavirus sangat perlu untuk menggunakan masker adalah bentuk pemasaran yang berorientasi kemanusiaan atau responsible marketing.

Selanjutnya, dalam jangka panjang upaya seperti ini akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Sepantasnya sikap Mas Menteri Parekraf kali ini diberi acungan jempol.

TOURISM IS PEOPLE

#TM we are doctoring tourism sickness

Leave a Reply