Mbalata beach, solitude Joint Nature …

 

KOMPAS.com – Di jalur lintas Flores antara Bajawa di Ngada dan Ruteng di Manggarai, sebuah jalur ke arah pantai selatan dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Mbalata Beach. Pantai ini hampir tersembunyi dari peluang untuk menikmati kedamaian masyarakat agraris dan nelayan yang membaur di Desa Watunggene, Kotakomba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Seperti Bajawa, dimana kotanya menawarkan sentuhan kehangatan masyarakat, Mbalata juga serupa dan hampir sempurna untuk tempat beristirahat dengan nuansa alam pantai dan kebun masyarakat yang bermahkotakan pemandangan kaki Gunung Inerie.

Sawah di tepi kanan dan Sungai Wae Lengga di tepi kiri telah mempertemukan hutan tropis dengan laut lepas bernama Sawu. Inilah reklame alami yang menggambarkan sajian Mbalata tawarkan untuk tamunya.

Kerbau yang bertanduk panjang merumput di tengah sawah seperti gambaran hidup Pulau Flores ratusan tahun lalu dimana tengkorak dan tanduknya seakan mahkota kekuasaan kerajaan kuno di pulau ini. Seratus meter sebelum bibir pantai, pohon kelapa, lontar dan aren mulai menyambut, sambil menawarkan pemandangan yang sulit ditolak. Warga sekitar sedang mengolah air nira dari lontar untuk dibuat sopi atau moke, minuman beralkohol khas tanah Flores.

Mbalata menyuguhkan pasir putih dari sebelah timur hingga muara Sungai Wae Wole. Di hari yang tak ramai, pantai ini hampir tak tersentuh kaki kecuali nelayan setempat. Di sebelah barat muara sungai, pantai berpasir hitam membentang seperti beranda rumah yang luar biasa luasnya. Semua ini milik mereka yang meluangkan saat-saatber petualang dan memilih Mbalata sebagai rest area-nya.

Sebenarnya, ini bisa saja menjadi sebuah kesenangan pribadi bagi mereka yang berjiwa petualang alam yang sejati. Setelah melalui seharan penuh mengukur langkah kaki dari Bajawa ke Belaraghi maka lanjutkan kegilaan itu hingga Aimere.

Dari pantai Aimere, petualang memanjakan dirinya dengan segala penat, lebam dan kekakuan otot di sebuah cottage yang terdiri dari lima buah bungalow bambu yang dibina di tengah kebun kecil. Mbalata Beach Inn Cottages seperti pelarian dari kesibukan kerja menuju sebuah petualangan puncak dan terus hingga titik ia dapat merebahkan diri dalam kedamaian alam pedesaan untuk mengibarkan kembali jiwa petualangnya.

Di cottage ini, tamu bersatu dengan masyarakat setempat untuk memakan sayuran dari kebun di depan kamar tidurnya, membakar ikan laut, dan minum dari air dari sumur hutan hujan tropis. Itu belum cukup… menghanyutkan diri dalam perbincangan panjang bersama pengelana lain di depan kopi yang ditumbuk siang tadi atau sopi yang masih manis dari air nira dari kebun sebelah.

Kenikmatan berlanjut, layar lebar pun tebuka tepat di hadapan menyajikan sunset yang mengubah awan seperti kain diterpa angin hingga warnanya berubah setiap jengkalnya. Mbalata cukup bagi Anda ingin memahami jiwa petualang atau sedang mencoba menemukannya.

Source: http://travel.kompas.com/read/2011/12/06/14151862/Pantai.Mbalata.Menyepi.Bersama.Alam

Supported by : JavaTourism.com, LintangBuanaTours.com,JavaBikers.com,Liburs.com,TourSumatra.com,FloresTour.com,Java-Adventure.com

Leave a Reply